BLACKNEWS – Konsumsi protein hewani masyarakat Provinsi Lampung pada 2025 tercatat hanya 15,62 gram per kapita per hari atau menjadi yang terendah kelima di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya mencerminkan persoalan pola konsumsi masyarakat, tetapi juga menjadi indikator masih rendahnya tingkat kesejahteraan petani di daerah.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan rendahnya konsumsi protein hewani tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekonomi masyarakat, khususnya petani yang selama bertahun-tahun belum menikmati hasil yang layak dari sektor pertanian.
Berdasarkan data yang dipaparkan, konsumsi protein hewani masyarakat Lampung sebesar 15,62 gram per kapita per hari masih berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 17,42 gram per kapita per hari. Secara nasional, Lampung menempati posisi kelima terbawah setelah Nusa Tenggara Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur, sedangkan konsumsi tertinggi tercatat di Kepulauan Riau dengan 24,39 gram per kapita per hari.
Menurut Mirza, persoalan tersebut berakar pada rendahnya pendapatan masyarakat yang sebagian besar bekerja sebagai petani.
“Sekitar 70 persen masyarakat Lampung menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Namun selama ini potensi kekayaan daerah belum berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakatnya karena harga komoditas seperti padi, jagung, dan singkong belum mampu memberikan keuntungan yang layak,” ujar Mirza saat memberikan sambutan pada pengukuhan Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), dan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Lampung di Balai Keratun, Selasa (7/7/2026).
Ia menjelaskan, rata-rata pendapatan petani sebelumnya hanya berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per keluarga setiap bulan. Di sisi lain, kebutuhan konsumsi rumah tangga di pedesaan mencapai sekitar Rp1,3 juta per bulan sehingga ruang masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi menjadi sangat terbatas.
“Ketika petani tidak memiliki uang, mereka harus memilih antara membeli makanan, menyekolahkan anak, atau memenuhi kebutuhan mendesak lainnya. Akhirnya semua harus dibagi seefisien mungkin,” katanya.
Mirza menilai keterbatasan pendapatan tersebut berdampak langsung terhadap kemampuan keluarga menyediakan makanan bergizi, khususnya sumber protein hewani bagi anak-anak.
“Belum lagi berbicara tentang asupan gizi dan protein. Karena kurangnya pendapatan, keluarga tidak bisa memberikan gizi yang cukup,” ujarnya.
Menurutnya, rendahnya konsumsi protein juga berkorelasi dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Lampung. Ia menyebut kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) provinsi.
Saat ini, IPM Lampung berada di peringkat ke-26 nasional. Sementara itu, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) berada di peringkat ke-28 dan Harapan Lama Sekolah (HLS) menempati peringkat ke-31 nasional.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen menjadikan peningkatan kesejahteraan petani sebagai salah satu strategi utama pembangunan daerah. Menurut Mirza, pembangunan sektor pertanian tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga harus mampu meningkatkan pendapatan petani sehingga berdampak pada perbaikan pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan gizi masyarakat.
“Indonesia Emas hanya bisa dicapai jika kita memiliki Generasi Emas. Karena itu, pembangunan manusia harus dimulai dari kesejahteraan masyarakat, termasuk memastikan anak-anak memperoleh asupan gizi dan protein yang cukup,” tegasnya. (*)













