BLACKNEWS – Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di SD Negeri 1 Gedong Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, Senin, 13 Juli 2026, menyisakan ironi. Di saat sekolah-sekolah negeri lain menyambut puluhan hingga ratusan peserta didik baru, SDN 1 Gedong Meneng hanya menerima dua murid baru di kelas I.
Dua siswi tersebut tetap mengikuti rangkaian MPLS dengan penuh semangat, didampingi orangtua dan para guru yang berupaya menghadirkan suasana hangat di lingkungan sekolah. Namun di balik semangat itu, tersimpan persoalan yang jauh lebih besar, yakni terus merosotnya jumlah peserta didik di sekolah negeri tersebut.
Data sekolah menunjukkan, saat ini SDN 1 Gedong Meneng hanya memiliki sekitar 45 siswa yang tersebar dari kelas I hingga kelas VI. Jumlah tersebut jauh dari ideal bagi sebuah sekolah dasar negeri di wilayah perkotaan seperti Bandar Lampung.
Kondisi ini bukan terjadi untuk pertama kalinya. Dalam beberapa tahun terakhir, sekolah tersebut terus mengalami penurunan jumlah peserta didik baru. Namun hingga kini belum terlihat adanya langkah strategis yang mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah tersebut.
Ironisnya, persoalan minimnya siswa juga diikuti dengan kondisi fisik bangunan yang memprihatinkan. Sejumlah ruang kelas tampak membutuhkan perbaikan, bahkan beberapa bagian plafon harus ditutup menggunakan kardus sebagai penanganan sementara.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pemerataan pendidikan dasar di Kota Bandar Lampung. Sebagai sekolah negeri, SDN 1 Gedong Meneng seharusnya memperoleh perhatian serius agar tetap mampu memberikan layanan pendidikan yang layak dan diminati masyarakat.
Pertanyaan pun mengemuka, di mana peran dan langkah konkret Pemerintah Kota Bandar Lampung dalam menyikapi persoalan yang terus berulang ini?
Apakah kondisi sekolah dengan jumlah peserta didik yang terus menurun telah menjadi bahan evaluasi? Apakah pernah dilakukan pemetaan penyebab rendahnya minat masyarakat? Dan apakah telah disiapkan program revitalisasi, baik dari sisi sarana prasarana maupun peningkatan kualitas layanan pendidikan?
Hingga hari pertama MPLS berlangsung, publik belum melihat adanya terobosan nyata yang mampu mengangkat kembali eksistensi SDN 1 Gedong Meneng sebagai sekolah negeri yang layak menjadi pilihan masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, para guru justru tetap menunjukkan dedikasi. Perwakilan guru, Rita, menyambut hangat dua peserta didik baru yang resmi menjadi bagian dari keluarga besar SDN 1 Gedong Meneng.
“Selamat datang dan selamat bergabung. Anak-anak tidak perlu takut karena ada kakak kelas dan guru-guru yang siap membimbing,” ujarnya.
Selain mengenalkan lingkungan sekolah, guru juga memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya menjaga kesehatan anak. Guru Ari mengimbau agar siswa dibiasakan membawa air putih dari rumah dan mengurangi konsumsi minuman instan yang mengandung pemanis maupun pewarna buatan.
Sementara itu, para wali murid mengaku tetap percaya terhadap kualitas pembelajaran di sekolah tersebut. Andi Irawan, orang tua salah satu peserta didik baru, mengatakan putrinya tetap bersemangat mengikuti MPLS meski hanya bersama satu teman sekelas.
“Anak saya sangat semangat mengikuti MPLS. Memang siswa baru tahun ini hanya dua orang, tetapi itu tidak mengurangi semangat anak-anak untuk belajar,” katanya.
Senada, Vita mengaku memilih SDN 1 Gedong Meneng karena lokasinya dekat dengan tempat tinggal. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak semata ditentukan oleh banyaknya jumlah siswa.
Meski demikian, fakta bahwa sebuah sekolah negeri hanya menerima dua murid baru tidak dapat dipandang sebagai persoalan biasa. Kondisi tersebut semestinya menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pemerataan pendidikan dasar.
MPLS tahun ini akhirnya tidak hanya menjadi momentum penyambutan peserta didik baru, tetapi juga menjadi pengingat bahwa masih ada sekolah negeri di Kota Bandar Lampung yang berjuang mempertahankan eksistensinya. Publik kini menunggu langkah nyata Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung, agar fenomena serupa tidak kembali terulang pada tahun-tahun mendatang. (*)















